Budaya Berkunjung Ke Daerah Bencana

Mungkin karena budaya bangsa Indonesia yang gemar mengunjungi tetangga atau saudara ketika terkena musibah, maka begitu pula hal yang sering kita saksikan ketika suatu wilayah di Indonesia ini terkena bencana yang begitu besar dan memprihatinkan. Para Pejabat Negara mulai dari Presiden sampai ke jajaran paling rendah berbondong-bondong mengunjungi wilayah bencana itu.

Sebenarnya apa yang ingin mereka lakukan? Bercengkrama dengan rakyat mereka yang sedang kepayahan menghadapi kenyataan bahwa mereka baru saja kehilangan anggota keluarga, harta benda dan kebahagiaan? Ingin menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia care terhadap rakyatknya ketika terkena bencana? atau apa?

Satu hal yang selalu menggelitik nalar pemikiran saya yang sudah lama mati dan tak digunakan untuk mencerna permasalahan bangsa. Tidakkah mereka berpikir bahwa dengan mereka berkunjung ke lokasi dimana bencana baru saja terjadi mereka bukannya membantu meringankan beban saudara-saudara kita melainkan menghambat segala upaya penyelamatan korban yang tersisa dan evakuasi korban? Bisa kita saksikan, ketika rombongan pejabat itu “berdondong-bondong menyerbu” lokasi bencana apa yang terjadi? Ya, kemacetan lalulintas dikarenakan jalan raya akan diprioritaskan bagi mereka, aparat yang berwenang dan bertanggung jawab atas segala proses evakuasi yang sedang dilakukan di lokasi bencana akan terbagi konsentrasinya dengan kedatangan mereka, dan banyak hal-hal yang mungkin saja justru tak membantu sama sekali bagi masyarakat yang sedang menderita ini.

Jika ingin menyalurkan bantuan, silahkan pergunakan staf pemerintahan yang ada di daerah-daerah. Koordinasikan segalanya. Dan jika keadaan sudah membaik dan dipastikan segala proses evakuasi telah berjalan dengan baik, maka silahkan kunjungilah saudara-sudara kita mungkin untuk sekedar say halllo  sampai mengevaluasi kinerja penanggulangan bencana yang telah berlangsung. Bukannya berbondong-bondong datang ke lokasi bencana begitu bencana baru saja usai.

Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi ketika para Pejabat Negara itu datang sehari setelah bencana usai. Gempa dan tsunami misalnya, apa yang akan terjadi ketika para pejabat itu sedang berada di lokasi bencana dan gempa susulan terjadi, tentu petugas akan mendahulukan mereka untuk dievakuasi, bukan rakyat yang memilih mereka. Sama halnya dengan banjir dan tanah longsor.

Yang terbaru adalah meletusnya gunung merapi. Sampai hari ini sudah berapa kali saya menyaksikan konvoi kendaraan kenegaraan yang dengan seenaknya menerobos lampu merah untuk menuju lokasi pengungsian warga di Cangkringan. Bisa anda bayangkan bukan ketika Merapi memberi aksi yang lebih besar bukan sekedar wedhus gembel sementara para pejabat itu sedang berkunjung? ya sekali lagi kosentrasi akan terpecah. Skala prioritas penyelamatan akan terbagi!

Tentang gempur

i am an easy going man. easy beeing boored easy being happy easy being..... pokoke easy-lah...
Pos ini dipublikasikan di Life Story, litle article dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s