Merapi Meletus (lagi)

Sendowo (Yogyakarta), Jum’at 5 November 2010 pukul 12.15

Suasana kos A-7 seperti biasa sudah lumayan sepi dari aktivitas warganya yang pukul 20.20 WIB tadi baru saja usai menyantap makan malam bersama-sama sebagai ungkapan rasa syukur alumni A-7 yang diterima bekerja di salah satu perusahaan kelautan negara.

Saya seperti biasa masih asik on-line dan baru saja menge-post satu artikel di blog saya ini tentang aroma khas hujan yang menenangkan. Sembari on-line, dikejauhan terdengar suara gemuruh samar-samar (di kuping saya “gluduk..gluduk..gluduk”) seperti bebatuan yang berjatuhan dari tempat yang lebih tinggi, namun saya mengacuhkannya karena beranggapan itu adalah bebunyian hasil karya pekerja proyek asrama mahasiswa baru UGM yang terletak persis di belakang kamar saya. Tapi, lama kelamaan suara gemuruh itu semakin terdengar nyaring, tapi sekali lagi saya tak menghiraukannya dengan anggapan itu adalah suara mobil yang biasa lewat di depan kosan kami. Namun, kuping saya tak mendengar suara ban khas mobil yang mengerem atau suara mesin mobil yang biasanya melambat di depan kos kami untuk menghindari polisi tidur. Dalam sekejap pun otak saya beranggapan ini gempa bumi. Tapi….berselang beberapa detik getaran yang saya harapkan sebagai imbas gempa bumi tak kunjung datang, sampai akhirnya semua penghuni kos keluar kamar dan saling mengonfirmasi asal muasal suara gemuruh itu.

Dan ternyata itu adalah suara gemuruh merapi yang kembali meletus. Tak tanggung-tanggung letusan merapi kali ini mencapai ketinggian 8 km ke atas yang mengakibatkan daerah jangkauan hujan pasir dan debu semakin meluas. TV pun kami nyalakan untuk meng-up date kabar terbaru tentang hal ini, namun belum ada hal yang signifikan yang bisa memberikan kami gambaran tentang tindakan yang seharusnya kami lakukan. Hingga akhrinya saya memutuskan untuk kembali on-line di kamar sebelah denga akun facebook dan twitter via tweedeck dan ternyata banyak up-date yang mengabarkan bahwa tengah terjadi hujan pasir, abu dan hujan air di daerah jalan kaliurang km 19, akses jalan di perempatan kentungan di tutup menjadi satu arah keselatan (menuju kota jogjakarta).

‎”Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan melihat aktivitas seismik Merapi, pagi ini pukul 01.00 dini hari kita ubah radius aman tidak lagi 15 kilometer tetapi diperluas di luar 20 kilometer,” Dr. Surono

Itulah kutipan pernyataan yang saya simak di Metro TV. Dengan meningkatnya radius tidak aman menjadi 20 km , maka wilayah kosan kami yang berada pada jarak 26 km dari puncak merapi masih cukup aman tapi tetap harus waspada.

Pengungsi yang sebelumnya diungsikan disekitar pakem pun akhirnya di gerakkan ke stadion maguwoharjo, warga sibuk mengamankan diri baik dengan kendaraan roda 2 maupun roda 4. Sempat terjadi kecelakaan bermotor dikarenakan jarak pandang yang kurang baik tertutup hujan pasir dan debu, serta kondisi jalan yang berlunpur sebagai akibat bercampurnya material vulkanik dengan air hujan yang mengguyur jogja. PLN pun tak mau mengambil resiko dengan mematikan sementara pasokan listrik untuk wilayah sleman jalan kaliurang km 6 ke atas yang membuat suasana semakin mencekam.

fffff

Kondisi stadion maguwoharjo setelah hujan abu vulkanik

Itulah sekiranya gambaran tentang suasana jogja, sementara di bagian lain dari merapi sampai saat ini saya belum memperoleh beritanya. semoga saja tak terjadi hal-hal yang sama sekali kita tidak harapkan.

Sampai saat ini (pukul 02.58 waktu laptop saya) suara gemuruh merapi masih sesekali terdengar diselingi suara ambulan yang memiriskan hati. Korban tewas satu orang telah jatuh akibat diterjang awan panas di daerah Cangkringan (TVOne) sedangkan puluhan lainnya luka-luka.

Semoga saja ini adalah letusan terakhir dari gunung paling aktif ini, agar bangsa ini bisa beristirahan sejenak dari terpaan bencana. aamiin

Tentang gempur

i am an easy going man. easy beeing boored easy being happy easy being..... pokoke easy-lah...
Pos ini dipublikasikan di Life Story, litle article dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Merapi Meletus (lagi)

  1. adhiarsa rakhman berkata:

    jika zona bahaya diperlebar jadi 25 km, akankah anda mengungsi? kalo iya kemana?

  2. gempur berkata:

    saya gak akan mengungsi untuk sementara waktu, lokasi saya di 26,3 km dari puncak merapi.
    kalau ngungsi saya akan pergi sementara dari jogja.
    Rumah saya sudah di sulawesi sudah memanggil2 untuk pulang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s