Jakarta : Liburan atau Mengungsi (Part 1)

Yogyakarta 08 NOvember 2010
Pukul 06.00
Terbangung dengan rasa was was ketinggalan kereta untuk ke jakarta hari ini jam 8 nanti.
Setelah semalaman tidak tidur dengan wajar karena keasikan menonton pertandingan sepakbola di televisi sampai pukul 05.00an pagi, akhirnya terkapar di ruang TV kos-kosan. Untungnya tidak lupa menyetel alarm di HP jam 6 pagi.

Terbangun seperti biasa dengan rasa bingung “sekarang pukul berapa?” diikuti beberapa menit kemudian oleh bunyi alarm di HP yang berdering kencang sekali di pagi yang lumayan sunyi di jogja hari ini, akhirnya langsung ke kamar dengan tujuan untuk ngepak-ngepak barang untuk ke jakarta dan selanjutnya mandi. Tapi ternyata malah tertidur lagi.

Bangun dengan motivasi penuh untuk pengalaman pertama ke Jakarta sendirian dengan menggunakan Kereta Api 15 menit kemudian. Langsung ke kamar mandi, mandi seadanya lalu menghubungi teman yang kemarin janji untuk mengantarkan ke Stasiun Tugu pagi ini. Jam menunjukkan pukul 07.01 pagi saat terdengar jawaban di seberang sana ” Terima Kasih, Anda terhubung dengan…” yang sudah cukup untuk mengindikasikan bahwa si yang empunya HP lagi tidur atau gak minimal HP itu lagi di Charge. Tak putus asa saya mencobanya sekali lagi walaupun masih saja di jawab oleh seorang wanita yang sama yang suaranya terdengar lebih nyaring.Untunglah si RIO pagi ini sudah bangun. Alhasil saya memintanya untuk mengantarkan ke stasiun Tugu.

Pukul 07.30
Tiba di stasiun Tugu Yogyakarta dengan tergopoh-gopoh, membawa jenjengan tas ransel yang terasa semakin berat, saya meninggalkan Rio di belakang dan segera menuju loket pembelian tiket Kereta Api Bisnis Langsung yang ternyata telah dipadati puluhan orang yang juga ingin ke Jakarta menggunakan kereta yang sama.

Mengantri beberapa saat, dan dari loket sebelah yang sudah lengang karena kereta Jurusan Jogja-Surabaya baru saja berangkat, dan tersisa orang-orang yang memesan tiket untuk keberangkatan selanjutnya. “Yang surabaya..yang surabaya” suara seorang tenaga pengamanan Stasiun Tugu berseragan Biru-Biru ketika mendekati panjangnya antrian kami yang ingin ke jakarta pukul 8 nanti. Teriakan-teriakan itu berkelanjutan beberapa menit dan sempat terbersik rasa kagum saya kepadanya yang benar2 melakukan tugasnya dengan baik.

Sambil berdiri menahan beban ransel yang dijejali pakaian yang baru saja kering dicuci dan belum disetrika, saya berusaha fokus untuk memutuskan apakah akan berangkat pukul 08.00 pagi nanti atau menunda perjalanan sampai malam apalagi telah terdengar desas desus bahwa seat di Kereta bisnis Fajar Utama telah habis yang tersisa adalah tiket non-seat alias kalau ngotot ingin ke jakarta pagi ini harus berdiri berjejalan dengan penumpang lainnya selama 8-10 jam dalam kereta yang katanya tak akan ada penjual asongan, pengamen dan hal-hal yang sama sekali tak menyenangkan untuk menemati perjalanan dengan kereta layaknya yang saya temui ketika menggunakan kereta ekonomi jurusan Jogjakarta-Surabaya.

Waktu untuk bertemu pramuniaga loket kereta masih panjang buat saya sebab antrian masih 12 orang lagi di depan dari 2 antrian yang seharusnya satu. Saya pun mencoba tetap sabar meskipun beberapa saat yang lalu baru saja ada seorang lelaki muda seumuran, ya..gak jauh bedalah dengan usia saya, berpostur lumayan gempal menyerobot antrian yang entah mengapa orang-orang yang diserobotnya menerima begitu saja perlakuan tak sopan tersebut, apalagi dia sampai memanggil teman wanitanya untuk bersama dirinya merebut giliran antrian orang lain.

Tak lama berselang, Pegawai Keamanan berseragam biru-biru yang saya kagumi tadi terlihat mendekati beberapa calon penumpang yang sedang mengantri di sebelah saya sambil berbicara dengan mimik yang sedikit takut-takut yang tergambar dari gurat wajahnya yang sejak dia berdiri di sana saya perhatikan. Dan tak lama tangannya terlihat menyodorkan tiket ke seorang calon penumpang sebut saja mas A, yang kemudian bersambut dengan uang pecahan 50.000 2 lembar dan selembar uang 20.000 dan 10.000. Sedangkan seorang ibu lagi yang berdiri tepat 2 orang di depan saya juga menyambut sang penjaga keamanan yang telah membuat kekaguman saya berkurang terhadapnya pagi ini, juga dengan menyodorkan pecahan uang yang sama. Terlihat beberapa penumpang lain yang sepertinya mulai jenuh dengan antrian pagi ini yang berusaha mempersingkat antrian mereka dengan membeli tiket dari si oknum penjaga keamanan berseragam biru-biru itu, walaupun semuanya berujung pada kekecewaan sejak si oknum berkata ” tiketnya dah abis, nanti kalau ada lagi saya samperin” sambil berlalu pergi. Ya, setidaknya si penjaga keamanan yang bernama (soli**in) begitu baik jauh dari perbuatannya itu memberikan contoh lain dari peribahasa “Don’t judge the book by it’s cover

Hupfth… sudahlah lupakan percalo’an itu, mari fokus ke antrian yang semakin dekat dengan penjaga loket tiket yang lumayan seger untuk dilihat pagi ini. Ya, saya berdiri tepat di depannya hanya berselang 2 orang pengantri lainnya. Namun sekali lagi kecantikan itu kembali luntur ketika si penjaga loket yang manis itu dengan cerobohnya berkata ” ada duit yang lebih kecil gak pak? saya gak ada kembalian” ketika ia menerima tiga lembar uang pecahan 100.000 sebagai bayaran 2 lembar tiket kereta bisnis non-seat dari seorang bapak yang kemudian menjadi bahan tertawaan kecil dari beberapa pengantri setelah si bapak berkata” mbaakk..mbaakk.. jaga loket tiket kog gak ada kembalian, piye toh.ckckckc”

“Fajar utama masih ada mbak?” pertanyaan itu mengawali giliran saya ketika berhadapan face trough glass to face dengan si mbak yang sudah tidak begitu manis lagi. “masih mas, tapi berdiri, gimana?” kata mbaknya. “hm…berpaaan mbak?” tanyaku selanjutnya, ” tujuan mana mas? kalau senen Rp.130.000″ katanya denagn senyum yang cukup manislah, “yaudah mbak 1 deh, non seat ya? kalau tar siang atau sore ada ga?” tanyaku lagi sambil mengorek-ngorek isi dompet buluk, “ada mas tapi malam, gimana? jadi yang sekarang atau yang malam? jawabnya. “sekarang aja”, “atas nama siapa pak?” katanya, “gempur” kataku dengan sedikit tidak ikhlas karena dipanggil pak (:D) “gembut??” tanyanya polos yang terlihat begitu ingin ku jitak. “Ge-E-eM-Pe-U-eR mbak. GEMPUR” jelasku sambil menoleh di layar monitornya yang ternyata di tulisnya GEMPUT argh,,,,masalah nama lagi. “eR mbak, ER”,oohh… akhirnya namaku beres juga “Rp.130.000 pak” sambil menyodorkan tiket kereta bisnis itu. “makasih mbak” mengambil tiket yang kutukar dengan 3 lembar pecahan 50.000 dengan harap-harap cemas dia bakal nanya lagi duit yang lebih kecil seperti bapak sebelumnya, dan ternyata dia sudah belajar dari kata-kata pelajaran yang lumayan pedes intonasinya dari bapak tadi. “keretanya sebelah sana mas” menunjuk arah utara stasiun “makasih mbak” jawabku sambil berlalu.

Setelah sukses membeli tiket kereta Bisnis, masuklah saya di gate penumpang dan menuju tempat dimana kereta berhenti yang ternyata telah dijejali ratusan calon penumpang dengan berbagai kepentingan yang mungkin salah satunya sama seperti tujuanku ke jakarta, Liburan atau Mengungsi!

Tentang gempur

i am an easy going man. easy beeing boored easy being happy easy being..... pokoke easy-lah...
Pos ini dipublikasikan di Funny Story, Life Story, litle article dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s