Jakarta : Liburan atau Mengungsi (Part 2)

Yogyakarta 08 NOvember 2010
Pukul 07.55
Yap, tiket kereta Bisnis Fajar Utama jurusan Tugu – Senen sudah ditangan. Begitu nyaris dengan waktu keberangkatan. Langsung menuju ke tempat dimana Kereta Bisnis pertama yang akan saya tumpangi sampai Jakarta berada, dan ternyata sudah bejibun orang yang mengantri untuk masuk ke gerbong masing-masing yang tentu saja sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang memperoleh seat di Kereta Bisnis Fajar Utama hari ini.

Minim pengalaman berpergian dengan kereta api sebelumnya, hanya bermodal keberanian dan pengalaman ke Surabaya saat mudik dan ke Klaten menggunakan Prameks dengan teman-teman, saya langkahkan kaki ke atas kereta bisnis itu, dan naik di sambungan gerbong restoran dengan gerbong penumpang.HUP…beberapa detik kemudian saya sudah berpindah dari tempat penumpang mengantri ke atas kereta. Otak pun mulai berputar memikirkan cara terbaik untuk menghabiskan perjalanan 8-10 jam menuju jakarta tanpa tempat duduk yang layak ini.

Keberanianpun saya kerahkan untuk menegur dan mengajak mas-mas yang sejak tadi berdiri di bordes yang memisahkan antara gerbong penumpang dan kantin kereta.

“Mau ke jakarta juga mas?” tanyaku canggung kepada mas-mas chubby itu
“iya mas” dijawabnya sambil melengos, mungkin sedikit ragu dan khawatir dengan modus penipuan lewat obrolan-obrolan yang berbuntut pada pembiusan dan hipnotis mengingat tampangku yang kalo diperhatiin serem juga😀

“oohhh.. non seat juga ya mas?”
“iya nih” jawabnya lagi singkat
“ooh.. kog bisa ya..padahal kan ini bukan kereta ekonomi”
“ga ngerti juga sih, eh tadi beli tiketnya berapaan?
“130 mas…masnya berapa?
“ya segitu juga sih” jawabnya dengan tampang yang sepertinya menyembunyikan sesuatu mengingat sepertinya dialah tadi penumpang yang membeli tiket dari oknum keamanan stasiun berseragam biru-biru itu.

Sembari menunggu kereta berangkat, obrolan kesana kemari pun di mulai sampai saat seorang berbadan bebal alias gemuk padat dilengkapin dengan kumis tebal sembari sesekali mengeluarkan asap rokok. Ya, abang yang satu itu pun ikut dalam perbincangan ala masyarakat biasa yang mencoba menggunakan Jasa Transportasi Negara yang katanya pelayanannya lebih baik dari Kereta Ekonomi yang pada pekan-pekan ini GRATIS bagi Mahasiswa yang ingin meninggalkan Yogyakarta sebagai langkah penyelamatan diri dari bencana Letusan Gunung Merapi.Perbincangan pun bergeser dari bordes kereta ke belakang kantin kereta ketika kereta Bisnis Fajar Utama bergerak meninggalkan Kota Jogjakarta.

Debu-debu vulkanik masih bertebaran di luar sana ketika kereta kami memasuki kawasan wates. Mas chubby pembeli tiket dari calo sibuk mengunyah permen karet yang sejak tadi kami bercakap-cakap sejenak di bordes, abang-abang gempal sibuk menghirup dan menghembuskan asap rokoknya yang mengepul keudara yang tentu saja memperparah keadaan kami di pojok kantin, sedangkan saya sibuk menikmati burger yang kubeli subuh tadi sebelum menyaksikan Kemenangan Real Madrid yang alhamdulillah rasanya masih enak.

“berapa kalian beli tiket?” tiba-tiba si abang nyeletuk
“130 lah bang kalo non seat, 150 kalau duduk” timpal mas-mas chubby sedangkan aku hanya tersenyum-senyum simpul sembari sesekali menyeka saos dan mayonaise yang memenuhi pojokan bibirku.

“bah, malasnya aku beli tiket”
“napa rupanya bang?”
“nanti lah di tanya baru aku kasih duid 50, pasti mau lah dia itu”
“wah, bisa gitu kah bang?”
“bisa saja lah, cukup kau pasang tampang serem waktu ditagih tiketnya” jawab abang itu bangga sambil menunjukkan mimik seram ala dia yang malah memicu tawa kecil kami,

“hha.a..a.a dah biasa ya rupanya abang ini”

Obrolan demi obrolan pun melayang di udara yang mulai penuh debu ketika kami memasuki kawasan wates. Ternyata merapi juga menyambangi daerah di ujung barat Yogyakarta ini. Jendela-jendela kereta pun ditutup dan udara pun semakin pengab, gerah dan berdebu yang menghentikan obrolan kami sejenak. Debu-debu merapi itu menyapa kami sejauh beberapa kilometer dan membuat jaketku yang berwarna hitam menjadi keabu-abuan yang ketika ditepuk akan menerbangkan partikel-partikel kecil yang jika terhirup akan sangat membahayakan paru-paru. Pedagang masker yang entah darimana munculnya berseliwaran melangkahi kaki-kaki kami bahkan sesekali menyenggolnya ketika mereka sibuk menarik manfaat dari adanya hujan debu lokal itu dengan berdagang masker.

Hujan debu temporal – lokal kereta pun usai dan kami bisa kembali bernapas lega. Obrolan pun dimulai, mengingat perjalanan kami masih jauh dari tujuan. Nama-nama gunung berapi yang mulai aktif di berbagai wilayah Indonesia, sampai pelajaran-pelajaran kehidupan menghiasi obrolan kami siang itu sebelum kami tertidur pulas dalam kereta yang semakin padat oleh pedagang-pedagan asongan yang naik di stasiun-stasiun kecil yang disinggahi oleh kereta bisnis itu.

Kereta bisnis Fajar Utama beberapa kali berhenti di tengah perjalanan ketika kereta Eksekutif akan lewat yang selalu menggelitik pikiran saya mengapa hal itu bisa terjadi pada kereta-kereta ekonomi dan bisnis ketika berpapasan di perjalan dengan kereta ekonomi. Setengah perjalanan telah kami lalui ketika akhirnya si abang sianipar pergi menghilang entah kemana dan menyisakan kami berdua yang kemudian mengobrol tentang perkuliahan yang kebetulan mas-mas chubby itu ternyata berkuliah S2 di UGM tepatnya Magister Manajemen yang kampusnya di sebelah utara kampusku. ANAVA atau Analisis Variansi menjadi bahan obrolan kami apalagi ketika si mas chuby mengutarakan bahwa dia sedang menyusun Tugas Akhir yang menggunakan tools analysis statistika yaitu ANAVA 3 Arah yang tentu saja menguras isi otakku sudah lama beristirahan dari yang namanya ANAVA 3 arah yang menggugahku untuk menjelaskan mengenai analysis fundamental dari ANAVA. hupfht……. Saking seriusnya obrolan kami, kami tak menyadari si abang sianipar sudah kembali entah dari mana dan akhirnya perkenalan nama yang seharusnya kami lakukan sejak perjalanan dimualipun kami lakukan. si mas chubby bernama GUSDI dan si abang batak itu tetap kekeuh agar kami memanggilanya SIANIPAR.

Saking seriusnya kami berbincang-bincang, sampai tidak menyadari bahwa tujuan mas GUSDI yaitu stasiun Bekasi telah 15 menit di depan kami. Akhirnya perbincangan pun dihentikan dan mengucap salam perpisahan ke mas GUSDI. Dan Stasiun senen berjarak kira-kira 30menit versi pedangan asongan yang sejak tadi menemani kami mengobrol. Namun si abang SIANIPAR turun di stasiun Jatinegara, alhasil saya harus duduk di sudut kereta itu selama 5-10 menit sampai stasiun Senen.

Dan, JAKARTA HERE I COME!

Tentang gempur

i am an easy going man. easy beeing boored easy being happy easy being..... pokoke easy-lah...
Pos ini dipublikasikan di Funny Story, Life Story dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s