Bye Djakarta

Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, 18 November 2010 pukul 17.35 WIB

Gemuruh guntur yang muncul setelah kilatan petir di langit Cengkareng sore itu menemani penantianku untuk pulang kembali ke Yogyakarta. Ya, tiket Kereta Bisnis Senja Utama jurusan Stasiun Senen Jakarta – Stasiun Tugu Yogyakarta telah berada ditanganku sejak kemarin malam yang terpaksa ku beli setelah tiket Fajar Utama habis dilibas calon penumpang yang langkahnya lebih cepat dariku. Penjaga Loket Pembelian tiket yang rupawan dan ramah itu sempat menyarankan untuk membeli tiket esok pagi 30 menit sebelum kereta berangkat dengan harapan kursi di gerbong tambahan masih ada, namun berbekal pengalaman kurang enak saat berangkat ke Djakarta 8 hari yang lalu, maka aku putuskan untuk membeli tiket kereta bisnis Senja Utama yang akan berangkat pukul 19.30 WIB malam ini.

Barang-barang bawaan telah selesai ku “kepak” dengan rapi di dalam tas ransel dan kupastikan tak ada yang tertinggal. Jam di kamar si Wawan telah menunjukkan pukul 17.50 saat kuputuskan untuk meneleponnya untuk mengantarkanku stasiun senen, pasalnya sesuai janjinya, dia akan mengantarkanku pukul 17.30 WIB. Percobaan pertama kenomor AS nya dan ternyata deringan HP tak jauh dari tempatku berdiri yang mengindikasikan bahwa HP itu tertinggal dalam kamarnya, selanjutnya ku coba menelepon ke nomor IM3 nya yang alhamdulillah diangkat dan terkonfirmasi bahwa dia sedang dalam perjalanan pulang ke kos dari tempat Training Centre untuk Turnamen Taekwondo 2 minggu kedepan.

Adzan magrib telah berlalu beberapa menit yang lalu ketika akhirnya si Wawan pulang dan segera beberes dan kemudian siap mengantarkanku ke stasiun Senen untuk selanjutnya bertolak ke Yogyakarta. Jam telah menunjukkan pukul 18.20 WIB ketika kami meninggalkan kos-kosan si Wawan. Hanya si Syahru kenalan baru di STT PLN yang bisa menemani kami ke Stasiun Senen walaupun akhirnya hanya saya dan si wawan lah yang berhasil sampai di Stasiun Senen setelah si Syahru mengambil jalur yang salah karena dia belum pernah ke Stasiun senen dengan mengendarai sepeda motor tentunya.

Jam di stasiun telah menunjukkan pukul 19.15 ketika kami memasuki stasiun senen melalui pintu Jalur Selatan Keberangkatan  menuju line 3 dimana kereta Senja Utama telah menanti kami untuk ke Yogyakarta. Duduk sejenak tanpa kata di emperan stasiun dengan membelakangi kereta yang sebentar lagi akan berangkat, sementara si Wawan duduk di sebelahku dengan menempatkan kereta di sebelah kanannya sembari “autis” memencet-mencet tombol Blackberry yang sejak tadi berada di genggaman tangannya. “Turnamennya kapan?” tanyaku memecah kesunyian. “Akhir Minggu depan” jawabnya singkat dan kembali menekan-nekan tuts Blackberry yang rasanya ingin ku buang ke rel kereta api agar terlindas habis, dan kamipun kembali terdiam dalam kesibukan kami masing-masing sembari sesekali kusempatkan kepalaku melirik ke kiri untuk memastikan telah berada dimana jarum panjang jam yang menggantung itu.

Kehening selama 5 menit tiba-tiba pecah, “Si Syahru Nyasar”, “ah..?? trus??” tanyaku heran. “udah balik ke kos lagi”, “oooohh…” dan kembali diam.

Operator Anouncer Stasiun terdengar sibuk memberitahukan keberangkatan dan kedatangan Kereta Api. Sampai saat kereta yang tadi berada dibelakangku telah berangkat dan giliran Kereta Senja Utama mengisi Jalur 3 untuk segera berangkat. Dan kamipun beranjang menuju gerbong dimana tempat duduk yang akan kuhangatkan selama kurang lebih 10 jam itu berada. “Kesana yuk wan” pimpinku sembari menuju kearah belakang badan kereta, “Ya” jawabnya singkat sembari memencet-mencet Blakcberry itu yang kemudian sepertinya dimasukkannya kembali kesakunya.

Masuk ke Gerbong 5 dan mencari-cari seat 11B, tempat dimana aku akan menghabiskan malam ini dalam perjalanan sebagaimana tertera pada tiket kereta yang sejak tadi kulihat untuk memastikan dimana tempatku duduk. Langkah kami sedikit terhenti di bordes antara gerbong nomor 4 dan 5 karena di dalam gerbong telah dipadati penumpang dan para pengantarnya yang sibuk menempatkan tas-tas dan barang bawaan mereka ke rak atas kereta yang sepertinya tak akan muat mengingat barang bawaan mereka begitu banyak. Setelah keadaan sedikit sepi, aku memutuskan untuk menuju tempatku dan mendapati seorang Bapak yang tengah asik membaca buku yang sangat “berat” menurutku duduk di sebelah kursiku yang akan menjadi teman perjalananku malam ini sampai besok pagi.

Waktu kami tak lama lagi sebelum kereta berangkat, “ada yang mau diomongin gak?” tanyaku memulai percakapan dalam kereta yang sempit itu sembari membenarkan posisi ransel di bahuku, “Maaf ya” jawab si wawan singkat. “Ya, udah dimaafin kog”, “Maaf kalau pelayanannya selama di Jakarta kurang memuaskan” tambahnya dengan nada bersalah. “ada yang lain?” selidikku, “itu aja, tar lewat telpon atau sms aja” belanya. “skrang aja mumpung ketemu” kataku lagi, belum sempat ia menjawab, kereta sudah mulai bergerak lambat dan akhirnya pertanyaan itu mengambang diantara hangatnya suhu kereta Bisnis Fajar Utama Malam itu. Dan ucapan salam memisahkan aku dan sahabatku itu.

Good Bye Djakarta, semoga aku bisa kembali kesana lagi dalam keadaan yang lebih baik di saat yang tepat, dan tolong jaga Sahabat dan saudaraku itu dalam pelukmu yang kata pepatah begitu kejam bagi mereka yang tidak siap!

Tentang gempur

i am an easy going man. easy beeing boored easy being happy easy being..... pokoke easy-lah...
Pos ini dipublikasikan di Life Story, litle article, Persahabatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s